Kantor Makassar
Tlp. 0411 - 3619566
Fax 0411 - 3619544

PPPI 6 Penilaian Usaha

Panduan Praktek Penilaian Indonesia 6
(PPPI 6)
Penilaian Usaha




1.0 Pendahuluan
  1. Panduan Praktek Penilaian Indonesia (PPPI) ini diterapkan agar penilaian bisnis dilaksanakan oleh para penilai dengan lebih konsisten dan lebih bermutu sehingga bermanfaat bagi pengguna jasa penilaian.
  2. Penilaian bisnis biasanya dilakukan menggunakan Nilai Pasar sebagai dasar penilaian dengan menerapkan SPI 1. Sedangkan untuk penerapan Dasar Penilaian selain Nilai Pasar harus diberikan penjelasan yang memadai sesuai dengan SPI 2.
  3. Secara umum, penilaian bisnis menerapkan konsep, proses dan metode yang biasa digunakan untuk penilaian-penilaian lainnya. Beberapa istilah mungkin bisa memiliki arti atau penggunaan yang berbeda dan perlu penjelasan apabila digunakan. Beberapa definisi penting yang digunakan dalam penilaian bisnis dikemukakan dalam panduan ini.
  4. Penilai dan pengguna jasa penilaian hendaknya berhati-hati dalam membedakan antara nilai suatu entitas usaha, nilai sebuah aset yang dimiliki oleh suatu entitas, dan berbagai kemungkinan penerapan bisnis atau pertimbangan untuk bisnis yang sedang berjalan yang diperhitungkan dalam penilaian hak atas real properti. Sebagai contoh adalah penilaian properti yang memiliki potensi perdagangan/usaha. (Lihat Tipe-tipe properti, para. 4.3.2).
2.0 Ruang Lingkup
  1. Panduan ini dimaksudkan untuk membantu dalam rangka penyusunan maupun penggunaan penilaian bisnis..
  2. Sebagai tambahan terhadap hal-hal yang umum terdapat pada panduan lainnya dalam SPI, panduan ini memuat pembahasan yang lebih luas mengenai proses penilaian bisnis. Termasuk berbagai hal yang biasanya terkait dalam penilaian bisnis. dan dasar perbandingan dengan jenis-jenis penilaian lainnya, namun pembahasan ini tidak dianggap sebagai mandat atau batasan kecuali dicantumkan dalam PPPI atau SPI.
  3. Karena prinsip-prinsip penilaian dasar, SPI dan panduan-panduan lainnya juga dapat diterapkan dalam penilaian bisnis. Panduan ini hendaknya dipahami dan diterapkan secara bersama-sama dengan bagian lain dari SPI.
3.0 Definisi
  1. Nilai Buku Yang Disesuaikan. Nilai buku yang dihasilkan ketika satu atau lebih aset atau kewajiban ditambahkan, dikurangkan, atau diubah dari jumlah yang dilaporkan dalam buku.
  2. Pendekatan Berbasis Aset. Suatu cara memperkirakan nilai suatu bisnis dan/atau ekuitas menggunakan metode yang didasarkan pada Nilai Pasar aset bisnis secara individu dikurangi dengan kewajiban.
  3. Nilai Buku
    • Dengan mengacu pada aset, merupakan biaya perolehan aset yang dikapitalisasi dikurangi akumulasi penyusutan, deplesi atau amortisasi yang tertera pada laporan akuntansi usaha.
    • Dengan mengacu pada perusahaan/entitas usaha, adalah perbedaan antara jumlah aset (bebas dari penyusutan, deplesi dan amortisasi) dan jumlah kewajiban suatu bisnis sebagaimana tercantum dalam neraca.
    • Penilai Usaha. Seseorang yang memiliki kualifikasi pendidikan, pelatihan, dan pengalaman untuk melakukan suatu penilaian usaha, hak atas kepemilikan usaha, surat berharga, dan/atau aset tak berwujud.
  4. Perusahaan/Entitas Usaha. Suatu organisasi komersial, industri, atau jasa yang melakukan aktivitas/kegiatan ekonomi.
  5. Penilaian Usaha. Suatu kegiatan atau proses untuk memperoleh pendapat atau perkiraan nilai suatu bisnis atau perusahaan/entitas atau suatu kepemilikan di dalamnya.
  6. Kapitalisasi
    • Konversi pendapatan menjadi sebuah nilai. Pada tanggal yang ditentukan, merupakan konversi menjadi nilai modal yang setara dari suatu realisasi atau perkiraan pendapatan bersih atau serangkaian penerimaan bersih, untuk lebih dari satu masa/periode.
    • Struktur permodalan usaha. Dalam penilaian usaha, istilah ini merujuk pada struktur permodalan suatu bisnis dari sebuah perusahaan/entitas usaha.
    • Dalam penilaian usaha, istilah ini juga merujuk pada pengakuan suatu pengeluaran sebagai aset/barang modal lebih daripada sebagai pengeluaran berkala.
  7. Faktor Kapitalisasi. Setiap pengali yang digunakan untuk mengkonversi pendapatan menjadi sebuah nilai.
  8. Rate Kapitalisasi. Setiap pembagian (biasanya ditunjukkan dalam persentase) yang digunakan untuk mengkonversi pendapatan menjadi sebuah nilai.
  9. Struktur Modal. Komposisi modal yang diinvestasikan.
  10. Arus Kas.
    • Arus Kas Kotor; Laba bersih setelah pajak, ditambah dengan komponen bukan kas seperti depresiasi dan amortisasi.
    • Arus Kas Bersih; Sejumlah kas yang tersisa setelah semua kebutuhan kas untuk bisnis terpenuhi selama masa operasi.
    • Arus Kas Bersih Ekuitas; Laba bersih setelah pajak, ditambah dengan depresiasi dan komponen bukan kas lainnya, dikurangi kenaikan modal kerja, dikurangi pengeluaran modal/investasi, dikurangi penurunan pokok pinjaman investasi, ditambah kenaikan pokok pinjaman investasi.
    • Arus Kas Bersih Modal Instasi; Arus kas bersih ekuitas, ditambah dengan pembayaran bunga bebas pajak, dikurangi kenaikan bersih pokok pinjaman.
  11. Kendali. Kekuasaan untuk mengatur pengelolaan dan kebijakan suatu bisnis.
  12. Premi Kendali. Nilai tambah yang melekat dalam kepemilikan mayoritas yang mencerminkan adanya kekuatan kendali, kebalikan dengan suatu kepemilikan minoritas.
  13. Diskon Minoritas (Discount for Lack of Control). Suatu jumlah atau persentase pengurang dari saham rata-rata dari nilai 100% kepemilikan ekuitas dalam suatu bisnis untuk menggambarkan tidak adanya sebagian atau seluruh kekuatan pengendali.
  14. Tingkat Diskonto. Suatu tingkat pengembalian yang digunakan untuk mengkonversi sejumlah uang yang dapat dibayarkan atau diterima di masa yang akan datang, menjadi nilai sekarang (present value).
  15. Umur Ekonomis. Masa selama properti masih menguntungkan untuk digunakan.
  16. Tanggal Efektif. Tanggal dimana opini nilai dari seorang Penilai diaplikasikan.
  17. Perusahaan. Lihat bisnis perusahaan/entitas usaha.
  18. Bisnis yang Sedang Berjalan (Going Concern).
    • Usaha/Bisnis yang sedang beroperasi.
    • Suatu kondisi dimana Penilai dan akuntan mempertimbangkan suatu usaha/bisnis sebagai perusahaan telah berdiri yang akan terus beroperasi. Premis bisnis yang sedang berjalan merupakan alternatif untuk premis likuidasi. Adopsi premis bisnis yang sedang berjalan mengijinkan suatu bisnis dinilai di atas nilai likuidasi dan diperlukan untuk pengembangan Nilai Pasar untuk sebuah usaha/bisnis.
    • Entitas biasanya dianggap sebagai bisnis yang sedang berjalan, yaitu kegiatan operasi yang berlangsung sampai masa mendatang. Diasumsikan bahwa entitas tidak memiliki maksud atau keperluan untuk likuidasi atau memendekkan secara material atas lingkup operasinya.
  19. Nilai Bisnis yang Sedang Berjalan (Going Concern Value)
    • Nilai suatu usaha/bisnis, atau atas adanya sebuah hak/kepentingan, sebagai bisnis yang sedang berjalan.
    • Unsur nilai yang tidak berwujud dalam suatu pengoperasian bisnis yang dihasilkan dari faktor-faktor tertentu, seperti memiliki tenaga kerja yang terlatih, pabrik yang beroperasi, dan ijin-ijin yang diperlukan, sistem dan prosedur pada tempatnya.
  20. Goodwill
    • Manfaat ekonomis masa mendatang yang diperoleh dari aset yang tidak dapat diidentifikasi secara individu/pribadi maupun diakui secara terpisah.
    • Personal Goodwill. Nilai keuntungan yang melebihi dan di atas harapan pasar, tidak termasuk penjualan properti yang diperdagangkan secara khusus, sekaligus dengan factor keuangan yang terkait secara spesifik dengan pengelola bisnis pada saat itu, seperti perpajakan, kebijakan depresiasi, biaya pinjaman dan modal yang diinvestasikan dalam bisnis.
    • Goodwill yang dapat dialihkan (Transferable Goodwill ). Aset tak berwujud yang muncul sebagai akibat dari nama khusus dan reputasi, dukungan pelanggan, lokasi, produk dan faktor sejenis yang menghasilkan keuntungan ekonomis. Hal ini melekat pada kekhususan perdagangan properti dan akan dialihkan melalui penjualan kepada pemilik baru.
  21. Perusahaan Induk (Holding Company). Suatu usaha/bisnis yang menerima pemasukan dari asetnya.
  22. Pendekatan Kapitalisasi Pendapatan. Cara yang lazim untuk memperkirakan indikasi nilai suatu usaha/bisnis, hak atas kepemilikan usaha, atau sekuritas menggunakan satu atau lebih metode dimana nilai diperkirakan dengan mengkonversi keuntungan yang diansipasi menjadi nilai modal.
  23. Modal yang Diinvestasikan. Jumlah hutang dan ekuitas dalam suatu usaha/bisnis jangka panjang.
  24. Kepemilikan Mayoritas (Majority Interest). Posisi kepemilikan yang lebih dari 50% dari hak suara dalam perusahaan.
  25. Kendali Mayoritas (Majority Control). Tingkat kendali yang dimiliki karena posisi kepemilikan mayoritas.
  26. Pendekatan Pasar. Cara yang lazim untuk memperkirakan indikasi nilai suatu usaha/bisnis, hak atas kepemilikan usaha/bisnis, atau sekuritas menggunakan satu atau lebih metode yang membandingkannya dengan usaha/bisnis yang sama, hak atas kepemilikan usaha/bisnis, atau sekuritas sejenis yang telah dijual.
  27. Nilai Pasar. Lihat SPI 1-3.1
  28. Nilai Pasar Wajar. Lihat SPI 1-3.5
  29. Nilai Wajar. Nilai dari perusahaan atau saham yang berlaku secara khusus untuk kasus adanya pemegang saham yang berbeda pendapat (dissenting shareholder).
  30. Nilai Investasi. Nilai dari suatu perusahaan atau saham atau kepentingan dalam perusahaan yang bersifat spesifik terhadap seorang investor, didasarkan pada atau terkait dengan persyaratan tertentu dari seorang atau kelompok investor.
  31. Nilai Likuidasi. Perkiraan jumlah uang tunai bersih atau yang bersifat ekivalen yang dapat diperoleh jika bisnis suatu perusahaan dihentikan dan asetnya dijual secara terpisah dalam suatu proses penjualan yang bersifat normal.
  32. Nilai Likuidasi Paksa. Perkiraan jumlah uang tunai bersih atau yang bersifat ekivalen yang dapat diperoleh jika bisnis suatu perusahaan dihentikan dan asetnya dijual secara terpisah dalam waktu yang sesingkat mungkin, misalnya pelelangan.
  33. Diskon Marketabilitas (Marketability Discount). Suatu jumlah atau persentase pengurang dari indikasi nilai ekuitas suatu perusahaan yang menggambarkan keterbatasannya untuk dapat dipasarkan.
  34. Kepemilikan Minoritas (Minority Interest). Posisi kepemilikan yang kurang dari 50% dari hak suara dalam perusahaan.
  35. Diskon Minoritas. Pengurangan karena kurangnya/ketiadaan hak pengendali dapat diaplikasikan pada suatu kepemilikan minoritas.
  36. Aset Bersih (Net Asset). Total aset dikurangi total kewajiban.
  37. Pendapatan Bersih. Pendapatan dikurangi pengeluaran, termasuk pajak.
  38. Perusahaan yang Beroperasi. Sebuah bisnis yang menjalankan aktivitas ekonomi dengan membuat, menjual, atau memperjual-belikan produk atau jasa.
  39. Tingkat Pengembalian/Balikan (Rate of Return). Sejumlah pendapatan (kerugian) dan/atau perubahan dalam nilai yang terealisasi atau diantisipasi dalam suatu investasi, dinyatakan dalam persentase dalam investasi tersebut.
  40. Biaya Penggantian Baru. Biaya sekarang untuk perolehan barang baru yang sejenis mempunyai penggunaan yang hampir sama dengan obyek yang sedang dinilai.
  41. Tanggal Laporan. Tanggal Laporan Penilaian. Kemungkinan sama dengan atau berbeda dari tanggal penilaian.
  42. Biaya Reproduksi Baru. Biaya sekarang untuk perolehan barang baru yang sama/identik.
  43. Pendekatan Penilaian. Secara umum, cara mengestimasi nilai menggunakan satu atau lebih metode penilaian yang spesifik. (lihat definisi Pendekatan Pasar, Pendekatan Kapitalisasi Pendapatan, dan Pendekatan berbasis Aset)
  44. Metode Penilaian. Cara tertentu untuk mengestimasi sebuah nilai dalam suatu pendekatan penilaian,
  45. Prosedur Penilaian. Tindakan, cara, dan teknik pelaksanaan langkah-langkah dalam suatu metode penilaian.
  46. Rasio Penilaian. Faktor dimana nilai atau harga bertindak sebagai pembilang dan keuangan, operasional, atau data fisik yang disiapkan sebagai penyebut.
  47. Modal Kerja. Jumlah dimana aset yang sekarang melebihi kewajiban sekarang.
4.0 Hubungan dengan Standar Akuntansi
  1. Penilaian bisnis biasa digunakan sebagai dasar pengalokasian berbagai asset untuk membantu pembentukan atau penyusunan kembali laporan keuangan. Dalam konteks ini, Penilai bisnis.menggambarkan Nilai Pasar semua komponen dalam neraca bisnis untuk memenuhi Standar Akuntansi, dengan memperhatikan kesepakatan yang menggambarkan pengaruh perubahan harga.
  2. Dalam beberapa kasus penilaian bisnis menyediakan dasar untuk memperkirakan perluasan keusangan aset tetap tertentu. Dalam beberapa kasus, penilaian bisnis dapat atau tidak dapat menjadi alasan prinsip untuk suatu penilaian, tetapi kombinasi jasa oleh Penilai bisnis dan, misalnya Penilai real properti perlu untuk mengalokasikan secara layak dan menggambarkan Nilai Pasar aset untuk dicantumkan dalam laporan keuangan.
  3. Pertimbangan lain yang terkait dengan hubungan dalam penilaian bisnis dan Standar Akuntansi adalah sejenis dengan provisi yang dibahas dalam Penerapan Penilaian Indonesia (PPI) 1.
5.0 Panduan Penerapan
  1. Penilaian bisnis mungkin diperlukan untuk sejumlah kegunaan, termasuk akuisisi dan penjualan usaha-usaha individu, penggabungan, penilaian kepemilikan pemegang saham, dan sejenisnya.
    • Apabila tujuan penilaian memerlukan perkiraan Nilai Pasar, penilai akan mengaplikasikan definisi, proses, dan metode yang konsisten dengan provisi dalam SPI 1.
    • Ketika penugasan memerlukan dasar nilai selain Nilai Pasar, Penilai akan mengidentifikasikan secara jelas jenis nilai yang terkait, mendefinisikan nilai, dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk membedakan perkiraan nilai dari perkiraan Nilai Pasar.
  2. Jika dalam opini Penilai aspek tertentu dalam suatu penugasan mengindikasikan bahwa adanya penyimpangan dari SPI atau dari PPPI ini harus diungkapkan dan dasar untuk penyimpangan diungkapkan Laporan Penilaian yang diterbitkan oleh Penilai. Persyaratan penyusunan Laporan Penilaian tersebut akan mengikuti KEPI dan SPI 3 tentang Laporan Penilaian.
  3. Penilai akan mengambil langkah untuk meyakinkan bahwa semua sumber data dapat diandalkan dan layak untuk melaksanakan penilaian. Pada umumnya, adalah di luar ruang lingkup penilai untuk melakukan verifikasi lengkap mengenai akurasi dan kelayakan sumber data sekunder atau tersier yang akan digunakan dalam penilaian.
  4. Penilai bisnis sering kali tergantung pada jasa Penilai properti dan/atau tenaga ahli profesional lainnya. Contoh yang umum adalah ketergantungan pada Penilai properti dalam menilai komponen real estat yang dimiliki oleh sebuah bisnis. Di mana jasa para ahli lainnya digunakan, Penilai bisnis akan :
    • melakukan langkah verifikasi yang diperlukan untuk meyakinkan bahwa jasa tersebut dilakukan secara kompeten dan kesimpulan yang dihasilkan wajar dan dapat dipercaya, atau
    • mengungkapkan fakta bahwa tidak ada langkah verifikasi yang diambil.
  5. Penilai bisnis sering kali bersandar kepada informasi yang diterima dari klien atau dari perwakilan klien. Sumber data tersebut akan dikutip oleh Penilai dalam Laporan Penilaian dan data tersebut hendaknya telah diverifikasi, jika memungkinkan.
  6. Meskipun banyak prinsip, metode, dan teknik penilaian bisnis sejenis dengan bidang penilaian lainnya, penilaian bisnis memerlukan pendidikan khusus, pelatihan, ketrampilan dan pengalaman.
  7. Bisnis yang sedang berjalan mempunyai beberapa arti dalam akuntansi dan penilaian. Dalam beberapa konteks, bisnis yang sedang berjalan sebagai premis di mana Penilai dan akuntan mempertimbangkan bahwa perusahaan merupakan suatu entitas yang telah berdiri dan akan terus beroperasi selamanya.
    • Premis bisnis yang sedang berjalan sebagai alternatif untuk premis likuidasi. Penerapan premis bisnis yang sedang berjalan mengijinkan suatu bisnis dinilai di atas nilai likuidasi dan diperlukan untuk pengembangan Nilai Pasar untuk sebuah usaha/bisnis.
      • Dalam likuidasi, nilai dari kebanyakan aset tak berwujud (misalnya goodwill/reputasi) cenderung menuju ke nol, dan nilai dari semua aset berwujud menggambarkan keadaan likuidasi. Pengeluaran yang berhubungan dengan likuidasi (imbalan jasa penjualan, komisi, pajak, biaya penutupan lainnya, biaya administrasi selama penutupan, dan kerugian nilai dalam persediaan) juga diperhitungkan dan dikurangkan dari estimasi nilai bisnis.
  8. Pemahaman terhadap aktivitas pasar sekarang dan pengetahuan tentang perkembangan dan tren ekonomi yang relevan adalah penting untuk suatu penilaian bisnis yang kompeten. Dalam mengestimasi Nilai Pasar dari sebuah bisnis, Penilai bisnis melakukan identifikasi dan menilai dampak berbagai pertimbangan dalam penilaian dan Laporan Penilaian.
  9. Deskripsi penugasan Penilaian bisnis harus mencakup :
    • Identifikasi bisnis, hak kepemilikan bisnis, atau sekuritas yang dinilai;
    • Tanggal efektif penilaian;
    • Definisi nilai;
    • Pemilik bisnis;
    • Maksud dan tujuan penilaian.
  10. Faktor yang dipertimbangkan oleh Penilai dalam penilaian bisnis mencakup :
    • Hak, kemudahan, atau kondisi yang melekat pada hak kepemilikan, apakah dalam bentuk perusahaan, kemitraan atau perorangan.
      • Hak kepemilikan bisnis ditetapkan dalam berbagai dokumen hukum. Di Indonesia dokumen tersebut adalah akte pendirian dan perubahannya, perjanjian kemitraan, anggaran dasar dan rumah tangga, dan perjanjian pemegang saham.
      • Siapapun yang memiliki hak kepemilikan bisnis terikat oleh dokumen bisnis. Tercantum hak dan kondisi/persyaratan dalam perjanjian pemilik atau pertukaran korespondensi, dan hak tersebut dapat atau tidak dapat dipindahkan kepada pemilik hak yang baru.
      • Dokumen dapat berisi larangan untuk pengalihan hak dan mungkin berisi ketentuan yang mengatur dasar penilaian yang harus diterapkan dalam kegiatan pengalihan hak. Dalam setiap kasus, hak kepemilikan yang dinilai dan hak yang menyertai hak lainnya harus dipertimbangkan di luar tersebut.
    • Karakteristik dan sejarah bisnis. Karena nilai merupakan manfaat dari suatu kepemilikan yang akan datang, sejarah bisnis berguna untuk memberikan panduan untuk harapan bisnis di masa yang akan datang.
    • Gambaran ekonomi yang dapat mempengaruhi bisnis, termasuk keadaan politik dan kebijakan pemerintah. Hal-hal seperti nilai tukar, inflasi, dan suku bunga mungkin mempengaruhi bisnis yang beroperasi dalam sektor yang berbeda dalam situasi ekonomi yang sangat berbeda.
    • Kondisi dan gambaran masa depan dari industri spesifik yang dapat mempengaruhi bisnis.
    • Aset, kewajiban, ekuitas dan kondisi keuangan suatu bisnis.
    • Laba dan kapasitas/kemampuan membayar deviden dari sebuah bisnis.
    • Apakah sebuah bisnis mempunyai nilai aset tak berwujud :
      • Nilai aset tak berwujud dapat berupa nilai atas aset tak berwujud yang dapat diidentifikasi seperti paten, hak cipta, merek dagang, pengetahuan, basis data, dan lain-lain.
      • Nilai aset tak berwujud mungkin berupa aset yang tidak dapat dipisahkan, biasa disebut goodwill. Catatan bahwa nilai good will dalam konteks ini sama dengan good will dalam pengertian akuntansi yang keduanya merupakan nilai sisa (biaya historis dalam istilah akuntansi) setelah semua aset lainnya telah diperhitungkan.
      • Jika suatu bisnis/bisnis memiliki aset tak berwujud, Penilai harus meyakini bahwa nilai aset tak berwujud sudah dicerminkan seluruhnya, terlepas apakah aset tak berwujud yang dapat diidentifikasi telah dinilai secara terpisah ataupun tidak.
    • Transaksi sebelumnya atas hak kepemilikan bisnis tersebut.
    • Ukuran relatif terhadap hak kepemilikan yang dinilai :
      • Ada perbedaan tingkat kendali (lack of control) yang dihasilkan dari perbedaan ukuran hak kepemilikan. Dalam beberapa contoh kendali efektif mungkin diperoleh dengan kurang dari 50% hak suara. Meskipun jika seseorang memiliki lebih dari 50% hak suara dan memiliki kendali operasional, akan melakukan tindakan tertentu, seperti menutup bisnis, yang mungkin membutuhkan lebih dari 50% hak suara, dan bahkan membutuhkan persetujuan dari semua pemilik.
      • Penilai perlu memperhatikan batasan dan persyaratan hukum yang berlaku di daerah bisnis tersebut berada.
    • Data pasar lainnya, seperti tingkat pengembalian pada investasi alternatif, keuntungan sebagai pengendali, kerugian karena kurangnya likuiditas, dan lain-lain.
    • Harga pasar dari barang yang diperdagangkan kepada umum atau kepemilikan atas suatu kemitraan, harga perolehan untuk kepemilikan suatu bisnis atau perjanjian kerjasama bisnis dengan jaringan bisnis yang sama atau sejenis.
      • Terutama dalam praktek transaksi akuisisi, informasi yang memadai seringkali sulit atau tidak mungkin didapatkan. Sementara harga transaksi yang sebenarnya mungkin diketahui, Penilai mungkin tidak mengetahui garansi dan ganti rugi yang diberikan oleh penjual, syarat-syarat apa yang diberikan atau didapat, apakah berupa kas atau aset lainnya yang diambil dari bisnis tersebut sebelum diakuisisi, atau apakah pengaruh perencanaan perpajakan terhadap transaksi.
      • Data yang dapat diperbandingkan seharusnya selalu digunakan dengan hati-hati, dan berbagai penyesuaian perlu dilakukan. Ketika menggunakan harga pasar yang menggambarkan penjualan kepada masyarakat umum, Penilai harus mengingat bahwa harga pasar berasal dari transaksi untuk pemegang saham minoritas kecil. Harga akuisisi untuk keseluruhan perusahaan menggambarkan 100% bisnisnya. Penyesuaian harus dibuat karena perbedaan-perbedaan yang muncul dikarenakan oleh perbedaan tingkat kendali.
    • Setiap informasi relevan lainnya yang dipercaya oleh Penilai.
  11. Kegunaan laporan keuangan
    • Terdapat tiga tujuan dalam analisis dan penyesuaian keuangan :
        Pemahaman hubungan yang ada dalam laporan laba-rugi dan neraca termasuk tren dari masa ke masa untuk mengevaluasi risiko yang timbul dalam operasional bisnis dan prospek kinerjanya di masa mendatang.
      • Perbandingan dengan bisnis yang sejenis untuk mengevalusi risiko dan parameter nilai.
      • Penyesuaian laporan keuangan historis untuk mengestimasi kemampuan ekonomi dan prospek suatu bisnis.
  12. Untuk membantu pemahaman ekonomi dan risiko dalam suatu kepemilikan bisnis, laporan keuangan seharusnya dianalisis dalam hal : 1) nominal uang, 2) persentase (persentase penjualan untuk pos-pos dalam laporan laba rugi dan persentase total aset untuk pos-pos di neraca), dan 3) rasio keuangan.
    • Analisis dalam nominal uang sesuai dengan yang dinyatakan dalam laporan keuangan digunakan untuk mengetahui tren dan hubungan antara pendapatan dan pengeluaran dalam suatu kepemilikan bisnis sepanjang waktu. Tren dan hubungan ini digunakan untuk mengevaluasi arus pendapatan yang diharapkan di masa mendatang sejalan dengan modal yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu bisnis untuk menghasilkan pendapatan.
    • Analisis dalam persentase membandingkan akun dalam laporan laba-rugi terhadap pendapatan dan akun dalam neraca terhadap total aset. Analisis persentase digunakan untuk membandingkan sebuah tren hubungan, misalnya antara pendapatan dan pengeluaran, atau diantara pos-pos neraca untuk suatu bisnis dari waktu ke waktu dan di antara bisnis yang sejenis.
    • Analisis rasio keuangan digunakan untuk membandingkan risiko secara relatif terhadap suatu bisnis sepanjang waktu dan di antara bisnis yang sejenis.
  13. Untuk memperkirakan Nilai Pasar suatu bisnis, penyesuaian umum terhadap laporan keuangan dilakukan agar lebih mendekati realitas ekonomi, baik terhadap laporan laba-rugi maupun neraca.
    • Penyesuaian laporan keuangan seharusnya dilakukan terhadap informasi keuangan untuk pos-pos yang relevan dan signifikan terhadap proses penilaian. Penyesuaian dapat dilakukan karena :
      • Untuk menyesuaikan pendapatan dan pengeluaran yang wajar untuk operasional yang berkelanjutan sebagaimana diharapkan.
      • Untuk menyediakan data keuangan obyek dan perusahaan pembanding / pedoman pada landasan yang konsisten.
      • Untuk melakukan penyesuaian dari nilai yang dilaporkan menjadi Nilai Pasar.
      • Untuk melakukan penyesuaian terhadap aset dan kewajiban non-operasional serta pendapatan dan pengeluaran yang terkait.
      • Untuk melakukan penyesuaian terhadap pendapatan atau pengeluaran yang bersifat non-ekonomi.
    • Apakah penyesuaian tersebut wajar atau tidak, mungkin tergantung pada tingkat kendali yang dipunyai oleh pemegang hak kepemilikan yang sedang dinilai. Untuk hak pengendalian, termasuk hak kepemilikan 100%, penyesuaian yang besar mungkin pantas jika pemilik dapat melakukan perubahan sebagaiman terwakili oleh besarnya penyesuaian. Untuk penilaian hak minoritas, di mana pemilik tidak mempunyai kemampuan untuk merubah banyak hal, Penilai seharusnya lebih teliti dalam merefleksikan kenyataan ketika mempertimbangkan penyesuaian yang potensial. Penyesuaian yang umum meliputi :
      • Eliminasi pengaruh laporan laba-rugi dan pengaruh neraca, jika ada, dari Kejadian Sesekali (non-recurring events). Karena kejadian tersebut sepertinya jarang terjadi lagi, pembeli hak tidak akan mengharapkan hal tersebut terjadi dan tidak akan memasukkannya ke dalam arus pendapatan. Penyesuaian mungkin diperlukan dalam perpajakan. Jenis penyesuaian tersebut biasanya dilakukan baik untuk penilaian hak mayoritas maupun hak minoritas. Contoh-contoh kejadian yang tidak berulang antara lain:
        • Unjuk rasa pekerja, jika tidak biasa
        • Permulaan pabrik baru
        • Fenomena cuaca, seperti banjir, angin topan, dan lain-lain jika tidak biasa.
        • Penjualan aset jika tidak biasa
      • Penilai harus berhati-hati dalam melakukan penyesuaian untuk hal-hal yang hanya terjadi sesekali ketika ternyata muncul seringkali, namun di setiap tahun kemunculannya sebagai hasil dari kejadian yang berbeda. Kebanyakan bisnis mengalami hal-hal yang terjadi sesekali di setiap tahun dan Penilai seharusnya membuat provisi cadangan untuk pengeluaran tersebut.
      • Eliminasi pengaruh akun non-operasional terhadap neraca dan laporan laba-rugi dalam konteks penilaian hak pemegang saham pengendali. Dalam konteks penilaian hak pemegang saham minoritas, penyesuaian ini mungkin tidak diperlukan. Jika akun non-operasional ada dalam neraca, maka harus dihilangkan dan dinilai secara terpisah dari operasional bisnisnya. Akun non-operasional harus dinilai pada Nilai Pasar. Penyesuaian pajak mungkin diperlukan. Biaya penjualan harus diperhitungkan. Penyesuaian terhadap laporan laba-rugi tidak menyertakan pendapatan dan pengeluaran yang muncul dari aset non-operasional termasuk dampak perpajakannya. Contoh-contoh akun non-operasional dan penyesuaian yang sesuai mencakup :
        • Bukan karyawan inti (non-essential personnel). Hapuskan kompensasi pengeluaran dan pajak yang terkait serta sesuaikan pajak pendapatan. Penilai harus berhati-hati dalam menyesuaikan akun-akun seperti akun Bukan Karyawan Inti dalam menghitung keuntungan yang dapat dikelola. Apabila Penilai tidak mengetahui bahwa pembeli, atau untuk siapa Penilai bekerja yang sebenarnya mempunyai kekuasaan untuk mengendalikan, untuk membuat perubahan dan berniat menghapus karyawan yang tidak diperhitungkan, ada risiko terhadap penilaian yang terlalu tinggi terhadap suatu bisnis jika pengeluaran ditambahkan kembali ke dalam laba.
        • Bukan aset inti / non-essential assets (seperti pesawat terbang). Hapuskan aset yang bukan inti dan aset penunjang serta kewajiban lain dari neraca. (Setelah bisnis dinilai, nilai aset yang bukan inti ditambahkan untuk rekonsiliasi nilai bisnis bersih dari biaya penjualan, termasuk pajak, jika ada). Hapuskan pada laporan laba-rugi dampak dari memiliki aset yang bukan inti termasuk pengeluaran dan pendapatan penunjang dan.
        • Aset berlebih (surplus/berlebih atau tidak dibutuhkan untuk bisnis) harus dibahas dalam Laporan Penilaian seperti akun non-operasional. Aset tersebut secara prinsip termasuk ijin, waralaba, hak cipta dan hak paten yang tidak digunakan; investasi pada sebidang tanah, sewa bangunan dan kelebihan peralatan; investasi pada bisnis lainnya; portofolio sekuritas yang dapat diperdagangkan; dan kelebihan kas atau deposito berjangka. Nilai realisasi bersih dari aset berlebih (setelah pajak penghasilan dan biaya penjualan) harus ditambahkan sebagai arus masuk arus kas bersih operasional, terutama pada awal tahun pertama periode proyeksi.
        • Depresiasi mungkin perlu disesuaikan dari depresiasi untuk pajak atau akuntansi yang ditunjukkan dalam laporan laba-rugi yang dilaporkan ke perkiraan yang lebih akurat dibandingkan dengan depresiasi untuk bisnis yang sejenis. Penyesuaian pajak mungkin perlu dilakukan.
        • Akuntansi persediaan perlu disesuaikan agar lebih akurat sesuai dengan bisnis yang sejenis yang akunnya mungkin masih dalam basis yang berbeda dengan obyek bisnisnya, atau agar lebih akurat merefleksikan realitas ekonomi. Penyesuaian persediaan dapat berbeda ketika mempertimbangkan laporan laba-rugi dan neraca. Sebagai contoh, first-in-first-out (FIFO) mungkin lebih akurat menggambarkan nilai persediaan ketika menyusun neraca Nilai Pasar. Tetapi ketika mengevaluasi laporan laba-rugi last-in-first-out (LIFO) mungkin akan lebih akurat menggambarkan tingkat pendapatan terhadap inflasi atau deflasi. Dalam hal ini, penyesuaian pajak juga perlu dilakukan.
        • Kompensasi kepada pemilik perlu disesuaikan untuk menggambarkan kompensasi wajar untuk menggantikan kompensasi tenaga kerja pemilik. Pesangon untuk karyawan bukan inti perlu dipertimbangkan. Dalam hal ini, penyesuaian pajak perlu dilakukan. Kontrak Jasa dengan pegawai senior perlu diteliti dan jika perlu disesuaikan.
        • Biaya akun sewa, kontrak atau dikontrakan ke pihak ke tiga perlu disesuaikan untuk mencerminkan Nilai Pasar pembayaran. Penyesuaian pajak perlu dilakukan.
      • Beberapa penyesuaian yang akan dilakukan dalam konteks penilaian terhadap keseluruhan bisnis mungkin tidak perlu dilakukan dalam konteks penilaian hak bukan pengendali dalam sebuah entitas ketika hak bukan pengendali tidak mampu melakukan penyesuaian.
      • Penyesuaian laporan laba-rugi dilakukan untuk membantu Penilai mencapai kesimpulan penilaian. Jika Penilai bertindak sebagai konsultan bagi pembeli maupun penjual dalam transaksi tersebut, penyesuaian harus dipahami oleh klien. Contohnya, pembeli seharusnya memahami bahwa nilai yang diperoleh setelah penyesuaian menggambarkan nilai maksimal yang harus dibayar. Jika pembeli tidak percaya pengembangan operasional atau keuangan yang dapat dilakukan, harga yang lebih rendah mungkin lebih layak.
      • Penyesuaian yang dibuat seharusnya dijelaskan dan didukung sepenuhnya. Penilai harus berhati-hati dalam membuat penyesuaian data historis. Penyesuaian tersebut seharusnya didiskusikan dengan jelas dengan klien. Penilai seharusnya membuat penyesuaian hanya setelah data mengenai bisnisnya cukup memadai untuk mendukung validitasnya.
    • Pendekatan penilaian bisnis
      • Pendekatan pasar
        • Pendekatan pasar membandingkan subjek bisnis yang sejenis, hak kepemilikan suatu bisnis dan sekuritas yang telah dijual di pasar.
        • Tiga sumber data yang umum digunakan dalam pendekatan pasar adalah pasar modal (bursa efek) di mana hak kepemilikan bisnis yang sejenis diperdagangkan, pasar akuisisi di mana seluruh bisnis dibeli dan dijual, dan transaksi sebelumnya atas kepemilikan obyek bisnis.
        • Harus ada dasar yang cukup memadai untuk membandingkan dengan dan bersandar pada bisnis yang sejenis dalam pendekatan pasar. Bisnis yang sejenis ini seharusnya dalam industri yang sama atau pada industri yang memiliki variabel ekonomi yang sama. Perbandingan harus dilakukan dengan benar dan tidak boleh menyesatkan. Faktor yang dipertimbangkan agar memiliki dasar yang dapat dipertanggung jawabkan untuk perbandingan antara lain :
          • Kesamaan karakteristik dengan obyek bisnis, baik secara kualitatif dan kuantitatif.
          • Jumlah dan verifikasi data terhadap bisnis yang sejenis.
          • Apakah harga bisnis yang sejenis menggambarkan transaksi yang bebas ikatan (arm’s-length)
            • Pencarian yang detail dan tidak bias untuk bisnis yang sejenis diperlukan guna menghasilkan sebuah penilaian yang independen dan terpercaya. Pencarian hendaknya memasukkan kriteria yang sederhana dan obyektif dalam menyeleksi bisnis yang sejenis.
            • Analisis komparatif terhadap persamaan dan perbedaan secara kualitatif dan kuantitatif di antara bisnis yang sejenis dan obyek yang dinilai.
          • Melalui analisis terhadap perusahaan publik atau akuisisi, Penilai seringkali menghitung rasio penilaian, biasanya harga dibagi dengan beberapa ukuran pendapatan atau aset bersih. Selain itu harus berhati-hati dalam menghitung dan menyeleksi rasio tersebut.
            • Rasio harus mempunyai informasi yang bermakna tentang nilai suatu bisnis.
            • Data yang berasal dari bisnis yang sejenis yang digunakan untuk menghitung rasio harus akurat.
            • Perhitungan rasio harus akurat.
            • Jika data tersebut adalah rata-rata, maka periode waktu yang diperhitungkan dan metode rata-rata tersebut harus sesuai.
            • Semua perhitungan harus dilakukan dengan cara yang sama, baik untuk bisnis yang sejenis maupun untuk obyek bisnis.
            • Data harga yang digunakan dalam rasio harus valid pada tanggal penilaian.
            • Jika diperlukan, penyesuaian dilakukan sedemikian hingga antara bisnis yang sejenis dan bisnis yang dinilai lebih dapat diperbandingkan.
            • Penyesuaian diperlukan untuk akun yang sesekali, yang jarang terjadi, atau yang bersifat non-operasional.
            • Rasio yang dipilih harus sesuai dalam hal perbedaan dalam risiko dan harapan terhadap bisnis yang sejenis dan bisnis yang dinilai.
            • Beberapa nilai indikasi dapat diperoleh karena beberapa pengganda penilaian diseleksi dan diaplikasikan terhadap bisnis yang dinilai.
            • Penyesuaian yang lebih tepat untuk perbedaan terhadap hak kepemilikan suatu bisnis dan hak dalam bisnis yang sejenis terkait dengan hak kendali (control) ataupun kurangnya kendali (lack of control), atau dapat dipasarkan (marketability) atau kurang dapat dipasarkan (lack of marketability) harus dilakukan, jika diperlukan.
          • Jika transaksi sebelumnya atas suatu bisnis yang dinilai biasa digunakan sebagai panduan dalam penilaian, penyesuaian mungkin diperlukan untuk waktu tersebut dan untuk kondisi ekonomi, industri, dan bisnis yang berubah.
          • Aturan penilaian yang tidak tertulis mungkin berguna dalam penilaian suatu bisnis, hak kepemilikan bisnis atau sekuritas. Bagaimanapun, indikasi nilai yang diperoleh dari penggunaan suatu aturan tidak semestinya diberikan bobot yang penting, jika tidak dapat diandalkan oleh baik pembeli maupun penjual.
        • Pendekatan pendapatan
          • Pendekatan pendapatan memperkirakan nilai suatu bisnis, hak kepemilikan bisnis atau sekuritas dengan menghitung nilai kini (present value) dari keuntungan yang diantisipasi. Dua metode yang umum adalah kapitalisasi pendapatan dan analisis diskonto arus kas (discounted cash flow) atau metode dividen (dividends method).
            • Dalam kapitalisasi (langsung) pendapatan, tingkat penerimaan dibagi dengan tingkat kapitalisasi atau dikalikan dengan pengganda pendapatan untuk mengkonversi pendapatan menjadi nilai. Secara teori, pendapatan mempunyai definisi yang berbeda dari segi penerimaan dan arus kas. Dalam prakteknya, penerimaan yang diukur biasanya berupa pendapatan sebelum pajak atau pendapatan setelah pajak. Tingkat kapitalisasi harus disesuaikan dengan definisi pendapatan yang digunakan.
            • Dalam analisis diskonto arus kas dan/atau metode dividen, penerimaan kas diperkirakan untuk setiap periode di masa yang akan datang. Penerimaan ini dikonversi menjadi nilai oleh aplikasi tingkat diskonto menggunakan teknik nilai kini. Beberapa definisi arus kas dapat digunakan. Dalam prakteknya, arus kas bersih (arus kas yang dapat didistribusikan oleh pemegang saham), atau dividen aktual (terutama dalam kasus pemegang saham minoritas) biasa digunakan. Tingkat diskonto harus sesuai dengan definisi arus kas yang digunakan.
            • Tingkat kapitalisasi dan tingkat diskonto diperoleh dari pasar dan diekspresikan sebagai pengganda harga (didapat dari data peresahaan publik) atau tingkat bunga (diambil dari data dalam investasi alternatif).
          • Pendapatan atau keuntungan yang diantisipasi dikonversi menjadi nilai menggunakan perhitungan yang mempertimbangkan pertumbuhan yang diharapkan dan waktu, risiko yang terkait dengan keuntungan, dan nilai uang dan waktu.
            • Pendapatan atau keuntungan yang diantisipasi seharusnya diestimasi dengan mempertimbangkan struktur modal dan kinerja historis suatu bisnis, harapan ke depannya dan faktor-faktor industri dan ekonomi.
            • Pendekatan pendapatan memerlukan estimasi tingkat kapitalisasi, ketika mengkapitalisasi pendapatan untuk mendapatkan nilai, atau tingkat diskonto, ketika mengenakan diskonto terhadap arus kas. Dalam mengestimasi tingkat diskonto yang sesuai, Penilai harus mempertimbangkan beberapa faktor seperti tingkat suku bunga, tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor pada investasi sejenis, dan risiko yang melekat pada keuntungan yang diantisipasi.
            • Dalam metode kapitalisasi yang menggunakan diskonto, pertumbuhan yang diharapkan secara eksplisit dipertimbangkan dalam estimasi keuntungan di masa yang akan datang.
            • Dalam metode kapitalisasi yang tidak menggunakan diskonto, pertumbuhan yang diharapkan sudah termasuk dalam tingkat kapitalisasi. Hubungan, dinyatakan dalam rumus, adalah tingkat diskonto dikurangi tingkat pertumbuhan jangka panjang sama dengan tingkat kapitalisasi (R = Y - ∆a, di mana R adalah tingkat kapitalisasi; Y adalah tingkat diskonto, atau pendapatan; dan ∆a adalah perubahan nilai tahunan).
            • Tingkat kapitalisasi atau tingkat diskonto harus konsisten terhadap jenis antisipasi keuntungan yang digunakan. Contohnya, tingkat/rate diskonto sebelum pajak harus digunakan dengan keuntungan sebelum pajak; diskonto pendapatan bersih setelah pajak harus digunakan dengan keuntungan bersih setelah pajak; dan diskonto arus kas bersih harus digunakan dengan keuntungan arus kas bersih.
            • Jika prediksi pendapatan dinyatakan dalam bentuk nominal, diskonto nominal harus digunakan, dan jika prediksi pendapatan dinyatakan dalam kondisi yang riil diskonto riil harus digunakan. Dengan kata lain, tingkat pertumbuhan jangka panjang yang diharapkan dari pendapatan hendaknya didokumentasi dan secara jelas dinyatakan dalam nominal atau riil.
        • Pendekatan aset (Asset based approach)
          • Dalam penilaian bisnis, pendekatan aset adalah sejenis dengan pendekatan biaya yang digunakan oleh Penilai untuk jenis properti yang berbeda.
          • Pendekatan aset didasarkan oleh prinsip substitusi, yaitu sebuah aset bernilai tidak lebih dari biaya untuk menggantikan seluruh bagiannya.
          • Dalam penerapan pendekatan aset, neraca atas dasar biaya digantikan dengan neraca yang melaporkan semua aset berwujud dan tak berwujud serta semua kewajiban pada Nilai Pasar atau nilai saat ini yang lebih tepat. Pajak perlu dipertimbangkan. Jika nilai pasar atau nilai likuidasi diaplikasikan, biaya penjualan dan pengeluaran lainnya mungkin perlu dipertimbangkan.
          • Pendekatan aset harus dipertimbangkan dalam penilaian hak pengendali entitas bisnis yang mencakup satu atau lebih hal berikut :
            • Sebuah investasi atau induk perusahaan, seperti bisnis properti atau bisnis pertanian.
            • Bisnis yang dinilai dengan basis selain sebagai bisnis yang sedang berjalan.
          • Pendekatan aset seharusnya bukan satu-satunya pendekatan dalam penilaian yang digunakan dalam penugasan berkaitan dengan bisnis yang dinilai sebagai bisnis yang sedang berjalan, kecuali diminta untuk digunakan oleh penjual dan pembeli. Pada beberapa kasus, Penilai harus mendukung pemilihan pendekatan ini.
          • Jika penilaian sebuah bisnis yang beroperasi bukan dengan basis sebagai bisnis yang sedang berjalan, aset hendaknya dinilai dengan basis Nilai Pasar atau dengan dasar yang mengasumsikan dalam periode waktu yang pendek ditawarkan di pasar, jika hal tersebut diperlukan. Semua biaya yang berhubungan dengan penjualan aset atau penutupan bisnis perlu diperhitungkan dalam penilaian jenis ini. Aset tak berwujud seperti goodwill mungkin tidak mempunyai nilai dalam kondisi ini, meskipun aset tak berwujud lainnya seperti hak paten, merk dagang, atau merk mungkin masih memiliki nilai.
          • Jika induk perusahaan properti memiliki properti dan menerima pendapatan investasi dari properti, Nilai Pasar seharusnya diperoleh dari setiap properti.
          • Jika induk perusahaan investasi dinilai, jenis sekuritas (tercatat dan tidak tercatat), likuiditas dan ukuran dari sekuritas mungkin relevan dan mungkin mengarah pada deviasi dari harga yang tercatat di bursa.
  14. Proses rekonsiliasi
    • Kesimpulan nilai didasarkan pada :
      • Definisi nilai;
      • Maksud dan Tujuan penilaian; dan
      • Semua informasi yang relevan pada tanggal penilaian diperlukan dalam kaitannya dengan ruang lingkup penugasan.
    • Kesimpulan nilai juga didasarkan pada estimasi nilai dari metode penilaian yang digunakan.
      • Pemilihan terhadap dan keyakinan pada pendekatan, metode, dan prosedur yang sesuai tergantung pada pertimbangan Penilai.
      • Penilai harus menggunakan pertimbangan ketika mengestimasi bobot relatif untuk setiap estimasi indikasi nilai yang dihasilkan dalam proses penilaian. Penilai harus memberikan pertimbangan yang rasional dalam menentukan metode penilaian yang digunakan dan bobot tertimbang atas metode tersebut dalam mencapai nilai yang direkonsiliasi.


Posting Terkait



0 komentar:

Untuk berlaganan Posting dalam Blog Ini (Gratis)Masukkan Alamat E-Mail:

Delivered by FeedBurner

My Page Site

  © Blogger templates Inspiration by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP